Hard working? That still not enough huh?!!!
by Si Ngoceh
Bukan bermaksud ingin mengeluh, bukan bermaksud egois dengan keinginan pribadi. Tapi saya adalah orang yang rasional, jadi apapun keadaannya asalkan ada alasan yang logis dan masuk akal, pasti akan bisa saya terima.
Entah apa yang ada di pikiran orang itu. Random pick? Some strategy? Or what?
Kita tidak bisa membaca pikiran orang kan. Jadi saya hanya ingin menceritakan ini dari perspektif saya pribadi. Apalah artinya menghabiskan berjam-jam untuk latihan, meneteskan banyak keringat dalam latihan, merasakan sakit di seluruh badan setelah latihan jika kamu tidak pernah bermain di dalam pertandingan yang sebenarnya?!
Tampil dalam sebuah pertandingan olahraga mungkin adalah keinginan semua orang yang tergabung dalam tim. Saya sudah berada di lingkungan seperti ini dalam jangka waktu yang tidak sebentar.
3 tahun di SMA saya habiskan dengan menekuni basket. Beberapa pertandingan kami ikuti, dan tidak pernah sekalipun saya menjadi starter. Menjadi pemain pengganti pun cuma beberapa kali pada saat pemain utama kelelahan atau cedera. Pada saat itu saya bisa menerima semuanya. Skill dan tubuh saya memang tidak sempurna, jadi saya pun sadar diri.
Tapi di sisi lain, ada kenyataan yang mengganggu pikiran dan hati saya. Di dalam tim yang terpilih untuk mengikuti pertandingan, ada beberapa orang yang memiliki skill tidak beda jauh dengan saya. Ada juga cuma fisiknya saja yang bagus tapi tidak punya skill dan sering melakukan kesalahan namun tetap terpilih dalam tim. Lalu di mana salah saya?
Saya selalu datang pertama setiap latihan dengan semangat untuk menjadi lebih baik dan ingin menambah pengalaman. Pulang paling terakhir setelah membereskan alat-alat karena kecintaan saya terhadap basket. Setiap latihannya saya pun selalu berusaha mendengarkan apa kata pelatih dengan bersungguh-sungguh dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan. Tapi tetap saja tidak bisa masuk dalam tim. Saya hanya jadi cadangan yang jarang di turunkan, bahkan diberi harapan palsu dengan menjadi manager tim (dengan kata lain, menjadi pesuruh tim).
Semua hal itu pernah saya alami di SMA. Saya memang tidak dekat dengan pelatih yang pada waktu itu adalah orang yang sedikit matrealisitis. Dia dekat dengan anggota tim yang bisa dibilang berkecukupan dan ‘anak gaul’. Saya tidak bisa seperti itu, karena saya hanya dari keluarga yang biasa-biasa saja dan jarang keluar rumah alias tidak gaul.
Akhirnya skill saya tidak berkembang dengan sempurna dengan semua tekanan tersebut. Saya hanya berusaha mengambil positifnya saja, semua ini hanya untuk olahraga saja. Menambah kegiatan, mencari keringat, supaya tetap sehat. Dan begitu lah 3 tahun SMA berakhir tanpa ada prestasi. Saya sangat menyesalinya sekarang, kenapa saya tetap mencintai basket selama 3 tahun tersebut. Mungkin jika saya mendalami olahraga lain, saya bisa mendapatkan pengalaman yang lebih baik dan sudah bisa berprestasi.
Kejadian seperti di atas pun terulang kembali tapi kali ini dalam pertandingan softball.
Saya memang baru di olahraga ini. Sebenarnya ada ketertarikan dengan softball sejak jaman SMA. Tapi sayangnya di SMA saya dulu olahraga tidak berkembang, apalagi softball. Jadi saya tidak punya kesempatan untuk mempelajarinya.
Pada awal kuliah pun saya punya kesempatan untuk berkenalan dengan softball. Namun karena rasa tidak percaya diri, tidak ada teman untuk memulai bersama, dan rasa takut kembali tidak dianggap dalam sebuah tim membuat saya tidak bergabung dengan UKM.
Sampai akhirnya pada tahun kemarin ada kesempatan buat berkenalan dengan softball. Sayang sekali ini sudah cukup terlambat bagi saya. Saya juga tidak berharap banyak pada olahraga ini walaupun saya menyukainya. Untungnya tahun kemarin kami bisa mendapatkan juara ketiga dalam turnamen antar fakultas dan saya ikut bermain dalam tim.
Tahun ini pun kami kembali mengikuti turnamen. Namun ada regulasi baru yang mengaharuskan minimal ada 3 perempuan dalam setiap tim yang mengikuti pertandingan. Selain itu banyak teman-teman baru yang ikut berpartisipasi sehingga kesempatan bermain pada pertandingan menjadi menurun.
Saya memang tidak hebat dalam olahraga ini, saya juga masih sadar diri. Namun setelah 2 pertandingan berturut-turut saya tidak diturunkan, saya menjadi bertanya-tanya. Apa saya seburuk itu?
Saya adalah orang yang serius dalam hal yang saya sukai. Selalu semangat setiap kali latihan, termasuk orang-orang yang pertama datang ke lapangan sesuai waktu yang di perintahkan. Padahal yang memerintahkan jauh lebih muda dari saya. Saya tidak mempermasalahkan umur atau angkatan, karena saya pikir mereka lebih berpengalaman di dunia softball.
Dalam latihan saya juga selalu berusaha serius. Tidak menganggap sepele seperti anak-anak muda lainnya. Tapi nyata nya?
Yang diturunkan dalam pertandingan JUSTRU mereka. Mereka yang kemampuannya tidak jauh berbeda dengan saya. Bahkan pada pertandingan hari ini mereka memilih memainkan orang yang sama sekali jarang latihan, datang pertama kalinya dalam turnamen dan langsung bermain walau sebagai pemain pengganti. WTH man!!!
Mereka melakukan kesalahan dalam pertandingan yang menurut saya bisa dihindari jika memilih orang yang tepat. It’s really irritating me so much. They always say win, win, and win. But I think that man not playing seriously. Sedangkan saya tidak dimainkan dalam 2 pertandingan BERTURUT-TURUT!
Seperti yang saya bilang, saya orang yang rasional. Saya pasti akan menerima jika alasannya logis. So what is the reason??? Am I that bad??? Am I so useless???
Yah mungkin masalah ini hanya mengganggu saya pribadi dan tidak dengan anggota tim lain yang bernasib seperti saya. Sebenarnya tidak ada anggota tim lain yang seperti saya. Memang ada beberapa orang yang tidak diturunkan beberapa kali, tapi mereka baru ikut tim tahun ini. Saya sudah sejak tahun kemarin. So am I wrong to get mad?
Sebenarnya saya tidak mau menimbulkan konflik dengan masalah seperti ini. Apalagi harus menanyakan alasannya di saat kami masih mengikuti turnamen.
Namun saya juga tidak bisa menerima semua kenyataan ini begitu saya. Saya yang sudah berusaha keras, saya yang mencoba untuk memahami semua aturan dan teknik permainan tetap tidak punya kesempatan dalam tim. Apalagi yang salah dengan saya? Apa kerja keras ini tak ada gunanya? Lalu bagaimana dengan mereka yang jarang latihan, tidak terlihat berusaha keras namun bisa tampil di pertandingan dengan mudahnya?
Ini semua melukai harga diri dan kerja keras selama ini. Ah entahlah, bahkan untuk berpikiran positif tentang masalah ini pun membuat saya emosi. What exactly You want to teach me GOD? I really not understand it.
That’s it for me. Hope the justice with you.
