Weasel in Sheep’s Clothing
by Si Ngoceh
Saya pernah membaca sebuah postingan pada saat melakukan blog walking, kurang lebih bunyi nya seperti ini :
Ibu pernah berkata, berhati-hati lah pada dunia perkuliahan. Karena terkadang akan lebih berbahaya daripada hidup di hutan.
Pada awalnya saya kurang mengerti maksud dari perkataan tersebut. Namun setelah membaca lebih lanjut, akhirnya saya dapat memahami maksudnya.
Yang dimaksud si ibu adalah bahwa dunia perkuliahan akan memberikan banyak sekali bahaya kepada diri kita, lebih berbahaya daripada ketika kita hidup sendirian di hutan. Bahayanya bukan serangan binatang buas atau semacamnya, tetapi jauh lebih berbahaya yaitu serangan MANUSIA.
Ya manusia. Mahluk yang diciptakan manusia lebih sempurna daripada mahluk-mahluk lainnya bisa lebih berbahaya dari binatang buas sekali pun. Apalagi di zaman sekarang yang serba tidak jelas ini. Saya yakin sekali bahwa manusia bisa lebih mengerikan daripada hantu-hantu yang bergentayangan.
Ibu saya sendiri pernah berpesan ketika awal kuliah. ” Berhati-hatilah memilih pergaulan dan lingkungan. Jangan sampai terjebak dalam masalah yang akan disesali nantinya”. Memang tidak sepenuhnya pesan ibu itu saya laksanakan, tetapi untungnya saya masih diberi kesadaran untuk bisa kembali dan menyesali terbuangnya waktu serta tenaga yang mengakibatkan memanjangnya masa kuliah (DAMN!).
Oke, lanjut lagi.
Akhir-akhir ini saya (lagi-lagi) terjebak dalam masalah-masalah soal pertemanan. Yah pada akhirnya saya tidak menganggap mereka teman, cukup menyesal juga telah menjatuhkan pilihan pada orang-orang yang salah.
Saya memang sarkastik. Saya memang keras. Tapi satu prinsip saya, saya tidak akan menusuk seseorang jika tidak tertusuk terlebih dahulu. Itu yang saya dapatkan dari keluarga, sebuah prinsip hidup yang menurut saya memang benar.
Tetapi sayangnya, prinsip itu memberikan efek samping yang cukup merepotkan. Saya tidak tahu apa bahasa Indonesia yang tepat, tetapi bahasa jawanya PEKEWUH.
Pekewuh bisa diartikan sebagai rasa tidak enakan, segan, atau malu-malu. Saya memahami sekali bahwa sebenarnya ini adalah sifat baik yang tidak dimiliki oleh semua orang (atau cuma saya saja yang merasakan berlebihan tentang sifat ini y, duh!). Tetapi di dunia sekarang ini (yang saya sebut sebagai “hutan”) sifat itu tidak bisa lagi di gunakan sepenuhnya. Terlalu banyak binatang-binatang buas yang siap menerkam disaat sifat itu muncul di permukaan.
Sebagai contoh, di sebuah pesta telah disediakan berbagai macam makanan dan minuman untuk para undangan. Nah pasti ada sebagian dari kita yang langsung menyerbu tanpa basi-basi dan pikir macam-macam. Tetapi sebagian lainnya pasti akan mengambil sedikit-sedikit dan memikirkan nasib orang lain yang belum kebagian walaupun sebenarnya dia sangat ingin menikmati semuanya. Dan itu adalah saya dengan sifat pekewuhnya. Selalu merasa tidak enakan dengan orang lainnya dan berusaha untuk perduli dengan keadaan orang lain.
Lalu pasti akan muncul pendapat, ‘kan sudah disediakan, ya sudah nikmati saja semuanya. Salahnya sendiri gak ngambil. Malu pangkal lapar’. Ya itung memang benar, dan seperti nya pikiran seperti itu lebih pantas untuk digunakan pada zaman sekarang ini. Buas pangkal selamat, perduli setan dengan yang lainnya. Tapi saya tetap tidak bisa membohongi hati nurani. Terkadang ingin rasanya bertindak seperti itu, namun apa daya hati yang paling dalam membawa saya untuk diam, mengalah, dan membiarkan semuanya berlalu.
Kembali ke permasalahan bahaya di perkuliahan.
Bahaya ini tidak hanya terbatas kepada serangan narkoba, serangan preman-preman kampus, tetapi juga bahaya sosial. Hal-hal berikut ini mungkin terjadi di sekitar kita. Hal sepele memang, tetapi tak ada salahnya untuk sedikit melihatnya.
- Pernahkan dalam mengerjakan tugas kelompok Anda merasa bahwa porsi keseriusan dalam mengerjakan tugas itu tidak sama tetapi nilai yang di dapatkan sama rata?
- Pernahkan dalam mengerjakan ujian nilai Anda lebih rendah daripada yang mencontek pekerjaan Anda?
- Pernahkan dalam pergaulan sehari-hari Anda merasa sudah melakukan yang terbaik tetapi ketika pergi ke kantin tidak ada yang mengajak Anda untuk duduk bersama-sama menikmati makanan sambil bercerita ini itu?
- Atau pernahkan Anda mempunyai seseorang yang dekat dan tiba-tiba saja menjauh serta memberi dampak terhadap lingkungan sekitar yang ikut-ikutan menjauh?
Jika Anda pernah merasakan itu semua, maka Anda sama dengan saya. Semuanya itu membawa kepada sebuah kata, yaitu teman.
Teman yang seharusnya menjadi orang pertama yang diandalkan ketika sedih atau terjatuh, teman yang selalu menjadi orang pertama untuk berbagi kebahagiaan dan teman yang seharusnya menjadi pelindung dari manusia-manusia lainnya. Tetapi kenyataannya jarang sekali ada yang bersedia melakukan itu semua tanpa pamrih, tanpa mengingkan sesuatu. Jujur saya kita pasti segala sesuatu pasti menginginkan sesuatu atau balasan yang serupa. Oleh karena itu menurut saya susah sekali menemukan teman.
Lalu Anda pasti bertanya, sebutan apa yang pantas untuk orang-orang itu? Saya sendiri pun tidak bisa menjawabnya. Mungkin gambaran teman menurut saya terlalu idealis, terlalu sulit untuk dijadikan kenyataan. Bisa saja begitu, saya pun tidak menyangkalnya. Apakah sebenarnya arti teman?
Yang saya ketahui tentang teman adalah mereka yang tidak akan melukai temannya sendiri. Mereka yang tidak akan merasa senang ketika melihat kita sedih. Atau malah senang ketika membuat kita sedih.
Memang tidak bisa di pungkuri bahwa cara pandang, pola pikir, dan egoisme sering kali membuat kita saling bergesekan satu dengan yang lain. Saling adu argumen. Bahkan sampai saling adu otot. Menurut saya itu lebih baik daripada menyebarkan kebencian kepada orang lain dan membawa mereka ikut serta pada kebencian tersebut. That so coward!. Tapi saya sadar bahwa saya tidak berhak menghakimi orang lain, ini semua hanya lah ocehan dari otak kecil saya yang tidak seberapa.
Jika Anda bermasalah dengan seseorang, alangkah lebih baik jika semuanya dibicarakan. Mengeluarkan segala yang mengganjal di hati dan pikiran. Saya yakin semua akan lebih melegakan ketika sudah dibicarakan. Walau pun nantinya akan ada teriakan-teriakan, urat-urat yang tertarik, air mata yang menetes atau ada lebam-lebam semuanya itu lebih baik daripada BERMUKA DUA atau MENUSUK DARI BELAKANG. Anda pasti mengerti apa yang saya maksud.
Musang berbulu domba, duri dalam daging, musuh dalam selimut atau apalah Anda menyebutnya. Hal ini pasti sering terjadi di sekitar kita. Kenapa harus menyebarkan kebencian ke orang-orang lainnya agak mengikuti kebencian Anda? Apakah Anda merasa senang ketika banyak yang setuju dengan kebencian Anda? Apa itu yang bisa disebut dengan teman?
Anda yang tertawa bahagia ketika melihat teman Anda dijauhi oleh sekitarnya dan Anda sendiri, Anda yang merasa bahwa orang yang menganggap Anda teman itu tidak penting dan kehilangannya bukan hal merugikan untuk Anda, Anda yang mungkin tidak pernah menganggap teman kepada orang yang menganggap Anda temannya.
Kenapa harus ada keegoisan sebesar itu? Anda belajar agama bukan?
Saya yakin bahwa agama mana pun pasti mengajarkan hal yang baik. Memaafkan, menerima segala kekurangan, berkata terus terang. Kenapa kita tidak bisa melakukannya?
Apalagi di tambah dengan menyebarkan cerita-cerita di belakang orang yang kita benci. Sejauh pengetahuan saya yang sangat sedikit, Islam menyebutnya dengan ghibah.
Berikut ini adalah beberapa penjelasan mengenai ghibah yang saya dapat dari internet.
Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.
Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Ghibah
Marilah kita simak firman Alloh dalam QS Al Hujurot ayat 12, yang artinya sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka , karena sebagian
dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan
janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka
memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat
lagi Maha Penyayang . (QS Al-Hujurat:12)
Source : http://kajian-muslimah.blogspot.com/2005/12/ghibah.html
Saya memang bukan seorang muslim yang taat. Bahkan pengetahuan saya tentang Islam mungkin masih kalah jauh dari anak-anak SD di Madrasah Ibtidaiyah.Tetapi setiap informasi yang saya dapat dari ceramah jumat di masjid, atau ceramah pada acara televisi, sebisa mungkin saya pahami.
Sebenarnya saya merasa amat sangat sulit untuk menjadi orang yang benar-benar beriman di zaman sekarang ini. Terlalu banyak halangan dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Apa saya harus mengasingkan diri di hutan untuk bisa benar-benar beriman?
Ghibah ini sudah menjadi kebiasan umum di masyarakat kita. Saya pun menyadari bahwa saya masih sering melakukan hal tersebut sadar atau tidak. Pilihannya ikut dalam ghibah atau di jauhi oleh lingkungan. Ya, sekejam itu pilihannya. Apalagi dengan maraknya sosial media. Bukan menjadi hal baru perseteruan di dunia maya hanya karena sebuah tweet. Baik itu tweet yang menyindir maupun tweet yang ditujukan langsung. Dan sayangnya perseteruan itu tidak hanya berhenti disana. Masih akan berlanjut di dunia nyata. Dan disitu lah awal mula terjadinya ghibah.
Saya tidak tahu apakah menyampaikan kejelekan seseorang secara langsung kepada orangnya termasuk ghibah atau tidak. Tetapi saya tetap berpendapat bahwa hal itu lebih baik daripada menyampaikannya tidak langsung kepada orangnya atau malah menyampaikannya kepada orang lain.
Di sekitar saya sudah banyak terjadi hal-hal menyedihkan seperti ini, bahkan terhadap diri saya sendiri. Apa yang bisa saya lakukan selanjutnya? Toh citra saya sudah buruk di mata orang-orang itu, iya kan?
Saya percaya bahwa dunia ini tidak buta dan tidak tuli. Masih banyak orang-orang berhati baik dan berotak cerdas yang bisa menyampaikan keburukan-keburukan yang terjadi di belakang dengan cara yang baik. Dan menyadarkan saya siapa mereka itu sebenarnya.
Rasa marah dan kecewa pasti ada, itu sudah menjadi bagian saya sebagai manusia. Lalu apa yang akan saya lakukan? Melawan mereka kembali? Membuat mereka merasakan sama seperti apa yang saya rasakan?
Tak perlu berbohong bahwa saya juga sebenarnya ingin melakukan hal-hal tersebut. Untunglah Tuhan masih menyayangi hambanya yang hina ini. Tuhan masih memberikan saya kelapangan dada untuk membiarkan semuanya berlalu.
Apa beda nya saya dan mereka jika saya melakukan hal yang sama. Saya percaya akan adanya karma. Tuhan maha adil lagi maha mengetahui. Lagipula hidup saya tidak bergantung kepada mereka kan?! Saya harus bisa terus menjalani hidup, berdiri di atas kaki sendiri. Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaatkan untuk mencurahkan tenaga dan pikiran. Biarkan lah mereka dengan sifatnya, mereka dengan kelompoknya dan mereka dengan pola pikirnya. Saya adalah apa yang saya inginkan.
Sekali lagi saya sadar, bahwa saya sama sekali tidak mempunyai hak untuk menghakimi. Disini saya hanya ingin menyampaikan apa yang hati ini rasakan dan apa yang otak tidak seberapa ini bisa pikirkan.
Thank for reading.. Enjoy your life everyone

This is it, my boyfriend
Yuk mari fokus saja sama tujuan utama, hal-hal macam itu gausah dipikirkan.
Kalo ingat kata pak habibie kemarin, “…saya adalah saya, orang tua saya adalah orang tua saya..” begitu juga dngan mereka adalah mereka.
So, your destiny is in your hand. Be positive and do the best.
amin.. let’s go full speed
)
kalo aku, tau dunia kuliah itu individualistis dari semester satu.
shock memang. makanya semester awal kuliahku ancur lebur. nasakom
tapi itu lah, seleksi alam. teman mana yang bisa diandalkan